Sabtu, 25 Mei 2013

SEDIAAN LARUTAN NON STERIL ( SOLUTIO NON STERIL )

a. Pengertian


  • menurut FI hal 14 :

Larutan adalah sediaan cair yang mengandung suatu zat atau lebih zat kimia yang terlarut.
misalnya : terdispersi melalui molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling tercampur.



  • menurut FN hal 332 :

Larutan adalah sediaan cair yang dibuat dengan melarutkan satu ataut lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air atau lebih dalam pelarut, dimaksudkan kedalam rongga tubuh.

zat pelarut disebut juga solvent, sedangkan zat yg terlarut di sebut juga solute.
solvent yang biasa dipakai adalah :
- Air = macam - macam garam.
- Spiritus = kampfer, iodoum, menthol.
- Gliserin = tannin , zat samak, borax, fenol.
- Eer = kampfer, fosfor, sublimat.
- Minyak = kampfer, mentol
- Parafin liq. = cera, cetaceum, minyak minyak, kampfer, menthol, chlorobutanol
- Eter minyak tanah = minyak-minyak lemak.

b. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan.
1. Sifat dari solute atau solvent
    solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar juga , begitu juga sebaliknya solute yang non polar akan larut dalam solvent yang non polar juga.

2. cosolvensi

    cosolvensi adalah peristiwa kenaikan ke;arutan suatu zat karena adanya penambahan pelarut lain atau modofikasi pelarut.

3. kelarutan
    zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, zat yang sukar larut memerlukan banyak pelarut.

4. temperatur

    zat padat umumnya bertambah larut jika suhunya dinaikkan, zat tersebut dikatakan bersifat endoterm karena pada proses kelarutannya memerlukan panas.

5. salting out
    salting out adalah perstiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan lebih besar di banding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.

6. salting in
    salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama dalam solvent menjadi besar.

7. Pembentukan kompleks
    pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.

c. Macam - Macam sediaan Larutan Obat

oral :
- potio (obat minum)
dimaksudnkan untuk pemakaian per oral , selain berbentuk larutan potio ada juga yang berbentuk suspensi dan emulsi.

- Elixir
adalah sediaan larutan yang mengandung bahan obat dan bahan tambahan( pemanis, pengawet, pewarna, pewangi ) sehingga memiliki bau dan rasa yang sedap dan sebagai pelarut digunakan campiran air - etanol.

- Sirup 
ada 3 macam :
1. sirup simplex = mengandng 65% gula dalam larutan nipagin 0,25% b/v
2. sirup obat = mengandung satu atau lebih jenis obat dengan atau tampa zat tambahan digunakan untuk pengobatan,
3. sirup pewangi = tidak mengandung obat tetapi mengandung zat pewangi atau penyedap lain. bertujuan untuk menutup rasa dan bau yang tidak enak.

- netralisasi , saturasi , potio efferfescent.
a. netralisasi adalah obat minum yang dibuat dnegan mencampurkan bagian asal dan bagian basa sampai reaksi selasai dan larutan bersifat netral.

b. saturatio adalah obat minum yang di buat dengan mereakskan asam dengan basa tetapi gas yang terjadi di tahan dalam wadah sehinnga larutan jenuh dengan gas.

c. potio effefescent adalah larutan yang berbuih yang CO2 nya lewat jenuh

- Guttae (drop)
guttae atau obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan , emulsi atau suspensi apabila tidak dinyatakan lain dimaksudkan untuk obat dalam.

topikal :
larutan topikal adalah larutan yag biasanya mengandung air tetapi seingkali juga pelarut lain. larutan topikal yang berupa suspensi disebut lotio . dan di gunakan sebagai obat luar.

- collyrium 
adalah  sediaan berupa larutan steril, jernih, bebas zarah asing, isotonis digunakan untuk membersihkan mata. Dapat ditambahkan zat dapar dan zat pengawet
- guttae opthalmicae 
adalah tetes mata  berupa larutan atau suspensi steril, cairan pembawanya berair, harus jernih, bebas benda asing, serat dan benang (harus disaring), serta tidak boleh digunakan setelah tutup dibuka > 1 bulan. Dan konsentrasi sunlimatnya tidak boleh > 1:4000

- collutorium
adalah larutan pekat dalam air yang mengandung bahan obat deodoran, antiseptika, anaastetika lokal atau astringensia, disimpan dalam botol kecil putih dan bermulut kecil.

- collunarium
adalah larutan yang digunakan sebagai obat cuci hidung. biasanya berupa larutan dalam air yang ditujukan untuk membersihkan hidung.

- gargarisma (gargle)
adalah sediaan berupa larutan umunya dalam keadaan pekat harus di encerkan dahulu sebelum digunakan , biasanya digunakan untuk pencegahan atau pengonatan infeksi tenggorokan.

- litus oris
adalah cairan agak kental dan pemakaiannya secara disapukan dalam mulut.

- guttae oris
adalah obat tetes mulut yang digunakan untuk mulut dengan cara mengencerkan lebih dahulu dengan air untuk dikumur - kumurkan, dan tidak untuk di telan.

- guttae nasales
adalah obat yang digunakan untuk hidung dengan cara meneteskan obat ke dalam rongga hiding, dapat mengandung zat pensuspensi , pendapar, dan pengawet.

- guttae auriculares
adalah obat tetes yabg digunakan dengan cara meneteskan obat ke dalam telinga , dengan zat pembawa bukan air, zat pembawa harus memiliki kekentalan yang sesuai seperti : propilenglikol dan gliserin.

- inhalationes
sediaan yang dimaksudnkan untuk sedot hiding atau mulut, dismprotkan dalam bentuk kabut dalam saluran pernafasan, tetesan arus berbentuk halus agar dapat mencapai bronkhioli.

- injectiones
dalah larutan steril yang biasa di suntikan kedalam vena atau otot dengan catatan pelarut yang digunakan adalah aquabides.

- lavement/clsma/enema
adalah  cairan yang pemakaiannya per rectum / kolon yang digunakan untuk membersihkan atau menghasilkan efek terapi setempat tau sistemik.

- douche
adalah larutan dalam air yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina, baik untuk pengobatan atau pembersihan.

- ephitema / obat kompres
adalah cairan yang dipakai untuk mendatangkan rasa dingin pada tempat tempat yang panas dan sakit karena radang atau berdasarkan sifat perbedaan tekanan osmose digunakan untuk mengeringkan luka bernanah.

resep

RESEP

Resep yang berarti ambilah adalah permintaan tertulis seorang dokter , dokter gigi , atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang - undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat - obatan bagi penderita.

  • suatu resep yang lengkap harus memuat :

- Nama , alamat , nomor izin praktek dokter.
- Tanggal penulisan resep.
- Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep.
- Tanda tangan atau paraf dokter
- Nama pasien , jenis hewan ,umur seta alamat / pemilik hewan.
- tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.


  • Pembagian suatu resep yang lengkap :
- Tanggal dan tempat itulisnya resep (inscriptio)
- Aturan pakai dari obat yang tertulis (signatura)
- Paraf/ tanda tangan dokter yang menulis resep (subscriptio)
- Tanda buka penulisan resep dengan R/ (invecatio)
- Nama obat , jumlah dan cara pembuatan (praescriptio atau ordinantio)


Salinan Resep (Copy Resep)

salinan resep atau apograph , exemplum , afschrif  adalah salinan yang dibuat oleh apotek, selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli , harus juga memuat :
- Nama dan Alamat potek
- Nama dan Nomer izin Apoteker pengelola apotek (APA)
- Tanda tangan atau paraf Apoteker pengelola apotek (APA)
- Tanda det (detur) untuk obat yang telah diserahkan, dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum di serahkan, pada resep dengan tanda ITER . . . X diberi tanda detur orig / detur . . . X
- Nomor resep dan tanda Pembuatan


Apabila APA berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti, dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.

Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita sendiri, dan petugas kesehatan atau petugas lain yan berwenang menurut perundang - undangan yang berlaku, contohnya petugas pengadilan bila diperlukan untuk suatu perkara.

Penyimpanan Resep
 Resep harus disimpan sekurang - kurangnya selama 3 tahun , Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya. Resp yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan.

Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker pengelola apotek bersama - sama dengan sekurang - kurangnya seorang petugas apotik. Pada pemusnahan resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah di tentukan, Rangkap 4 dan di tanda tangani oleh APA bersama sekurang - kurangnya seorang petugas apotek

Apoteker tidak di benarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama  apabila pada resep aslinya tercantum n.i (ne iteratur = tidak boleh diulang) atau narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya badan POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter.

Unguenta

UNGUENTA ( SALEP )

1. PENGERTIAN
menurut FI. IV adalah sediaan setengah padat dirujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir


2. PENGGOLONGAN

  • menurut konsistensinya :

- UNGUENTA : salep yg mempunyai konsistensi seperti mentega ,tidak mencair pada suhu biasa namun dapat diloeskan tanpa menggunakan tenaga

- CREAM : salep yang mengandung banyak air , dapat dicuci dengan air

- PASTA : salep yg mengandung lebih dari 50% bahan padat (serbuk)

- CERATA : salep yg berlemak yang mengandung presentase tinngi lilin (waxes) sehingga konsistensinya lebih keras

- JELLY : suatu salep yang halus , umumnya cair mengandung sedikit atau tanpa lilin digunakan terutama pada membran mukosa sebagai pelicin atau basis.


  • menurut efek terapinya :
- salep epidermic : digunakan pada permukaan kulit yang berfungsi hanya untuk melindungi kulit dan menghasilkan efek lokal, karena bahan obat tidak di absorbsi. dasar salep yang terbaik adalah dasar salep hidrokarbon / vaselin

- salep endodermic : salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam tetapi tidak melalui kulit dan terabsorpsi sebagian. dasar salep yang baik adalah minyak lemak

- salep diadermic : salep dimana bahan obatnya menembus ke dalam melalui kulit dan mencapai efek yang diinginkan karena diabsorbsi seluruhnya. dasar salep yang baik adalah adeps lanae dan oleum cacao

  •  menurut dasar salepnya :
- salep hydrophobic : salep dengan bahan dasar berlemak. misal : campuran dari lemak lemak , minnyak lemak. malam yang tak tercuci dengan air.

- salep hydrophylic : salep yang kuat menarik air . misal : salep tipe o/w atau seperti salep dasar hydrophobic tapi konsistensinya lebih lemak, kemungkinan salep tipe w/o antara lan campuran sterol dan petrolatum

3. PERATURAN PEMBUATAN SALEP MENURUT F.VAN DUIN


  • Peraturan salep pertama

Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya, jika perlu dengan pemanasan.
  • Peraturan salep kedua

Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep dan jumlah air yang dipakai, dikurangi dari basis salepnya.
  • Peraturan salep ketiga

Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air harus diserbukkan lebih dahulu, kemudian diayak dengan pengayak No. 60.
  • Peraturan salep keempat

Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin (bahan-bahan yang ikut lebur, penimbangannya harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobotnya).
4.  PERSYARATAN SALEP MENURUT FI. EDISI III
  1. Pemerian : tidak boleh berbau tengik.
  2. Kadar : kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat keras atau obat narkotik, kadar bahan obat adalah 10%.
  3. Dasar salep (ds) : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep (basis salep) digunakan vaselin putih (vaselin album). Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian salep, dapat dipilih beberapa bahan dasar salep sebagai berikut : Ds. senyawa hidrokarbon : vaselin putih, vaselin kuning (vaselin flavum), malam putih (cera album), malam kuning (cera flavum), atau campurannya. Ds. serap : lemak bulu domba (adeps lanae), campuran 3 bagian kolesterol, 3 bagian stearil-alkohol, 8 bagian malam putih dan 86 bagian vaselin putih, campuran 30 bagian malam kuning dan 70 bagian minyak wijen. Ds. yang dapat dicuci dengan air atau Ds. emulsi, misalnya emulsi minyak dalam air (M/A). Ds. yang dapat larut dalam air, misalnya PEG atau campurannya.
  4. Homogenitas : jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok, harus menunjukkan susunan yang homogen.
  5. Penandaan : pada etiket harus tertera “obat luar”.